Showing posts with label All About Minangkabau. Show all posts
Showing posts with label All About Minangkabau. Show all posts

Jalan Panjang Yang Berliku

Posted by Ferry Setia Budi Wednesday, September 19, 2012 0 comments

Pengantar : Posting kali ini dikutip dari tulisan sejarawan Universitas Andalas, Prof. Gusti Asnan yang dimuat di jurnal KITLV. Selanjutnya saya lengkapi dengan foto-foto dari koleksi KITLV juga. Terimakasih buat pembaca setia blog ini, Bung Chan, yang telah memberikan link jurnal ini kepada saya. Bagi pembaca yang ingin membaca tulisannya secara lengkap, silakan meluncur ke
http://www.kitlv-journals.nl/index.php/btlv/article/viewFile/1745/2506.


Johannes van den Bosch
Pernahkah terpikir oleh dunsanak, bahwa manusia yang (mungkin) paling menyengsarakan bangsa Indonesia adalah juga sekaligus orang yang berjasa memprakarsai pembangunan jalan di Ranah Minang? Namanya Johannes van den Bosch, Gubernur Jenderal yang berkuasa di Batavia tahun 1830-1834. Orang se-Hindia Belanda mengenalnya sebagai tokoh dibalik kebijakan Tanam Paksa. Ironis? Begini ceritanya.
***
Sampai pertengahan abad kesembilan belas, hubungan antara daerah pantai dengan pedalaman Minangkabau diadakan masih melalui jalan setapak. Setidaknya ada lima kelompok jalan setapak pada saat itu.



Baca Selengkapnya ....

Residentie Sumatra's Westkust

Posted by Ferry Setia Budi 0 comments




Dalam posting-posting terdahulu seringkali kita menyebut Sumatera Barat dengan istilah yang dipakai dalam adminstrasi pemerintahan kolonial Belanda, yaitu Sumatra's Westkust. Arti harfiahnya adalah Pantai Barat Sumatera. Namun nama ini sekaligus juga menjadi nama salah satu keresidenan di pulau Sumatera.

Apakah wilayahnya sama dengan wilayah Propinsi Sumatera Barat sekarang? Untuk menjawabnya mari kita lihat peta Keresidenan Sumatra's Weskust yang diterbitkan pada tahun 1932.


Baca Selengkapnya ....

Seabad Kelok 9 (1910 dan 2010)

Posted by Ferry Setia Budi 0 comments




[Image: kelok%2B9%2B1910.jpg]
[Image: kelok-9-subkiskeigoblogspotcom.jpg]
Atas : Tahun 1910
Bawah : Tahun 2010


Kedua foto ini mengambil lokasi dan angle yang
sama, tapi dipisahkan jarak waktu seratus tahun. Lokasi yang dipilih
adalah Kelok Sembilan, sebuah lokasi berjarak kira-kira 70 km dari
Bukittinggi arah ke Pekanbaru.

Sesuai namanya, Kelok Sembilan
mempunyai 9 buah kelok (bahasa Minang yang berarti tikungan) dengan
sudut putar 180 derjat. Sebuah cara yang dibuat oleh Belanda dalam
menyiasati beda tinggi yang mencolok antara jalan bagian bawah dan
bagian atas. Cara ini efektif untuk memperpendek jarak tempuh karena
tidak perlu memutar mengelilingi bukit. Selain disini, kelok yang banyak
juga terdapat di Kelok 44 (Maninjau) dan Sitinjau Laut (Padang-Solok).
Lain waktu kita jalan-jalan ke sana.
Kelok 9 dibangun Belanda pada
tahun 1908 - 1910. Pada foto pertama, sepertinya dipotret pada saat
jalan itu baru selesai dibangun tahun 1910. Ini terlihat dari lingkungan
yang bersih dari tanaman-tanaman besar. Bahkan ada yang masih
bertumbangan. Dalam foto juga terlihat sebuah mobil menuruni kelok
sembilan dan di kejauhan sana terlihat jalan mengular menuju kepekatan
rimba raya, ke arah kota Pajakoemboeh alias Payakumbuh. Terbayang waktu
itu, apa yang ada dalam pikiran para penumpang mobil ketika berjalan
dalam naungan batang kayu raksasa di kiri-kanan jalan. Alangkah
beraninya!
Foto kedua, seratus tahun kemudian. 2010. Perbedaan
yang mencolok adalah jalan sudah dilapisi aspal mululus lus. Kemudian
kepekatan hutan terlihat berkurang dan tidak seseram foto seratus tahun
sebelumnya. Yang pasti masih sama adalah konstruksi dinding penahan
tanahnya. Dari kedua foto dapat dipastikan dinding itu adalah dinding
yang sama. Dilihat dari bentuk dan alur-alur yang ada di permukaan
dinding. Seratus tahun menantang panas dan hujan tidak membuat dinding
itu lapuk dimakan usia. Jangankan rubuh, sompel pun tidak! Hanya ada
penambahan dinding di sebelah kiri arah jurang. Mungkin untuk pencegahan
karena sudah banyak pembalap jalanan yang terjun ke dalam sana.
Terakhir,
ternyata kedua foto ini memperlihatkan bahwa lebar jalan di sana tidak
berubah selama 100 tahun. Padahal kendaraan yang lewat sudah berbeda
jauh ukurannya. Pantas saja sering macet....

Baca Selengkapnya ....

Stasiun Pariaman 1935

Posted by Ferry Setia Budi 0 comments



Sebuah stasiun Kereta Api di bibir pantai. Beberapa pejabat stasiun berpakaian putih terlihat berpose menghadap kamera. Matahari bersinar cerah pagi itu. Kok tau itu pagi? Ya, karena sinar matahari datang dari arah belakang, menghantam langsung ke dinding putih stasiun yang bertuliskan "PRIAMAN". Ingat, bahwa Pariaman berada di pantai barat Sumatera. Artinya, sinar datang dari Timur. Timur artinya pagi. Sederhana, bukan? :)
Inilah stasiun Pariaman. Sampai sekarang stasiun ini masih ada dan masih berfungsi membawa penumpang dari Padang ke Pariaman dan sebaliknya. Namun kondisinya sudah jelas jauh berbeda.
Stasiun sekarang tenggelam ditengah hiruk pikuknya pasar Pariaman. Berbeda dengan di dalam foto yang terlihat berwibawa, stasiun sekarang terlihat kerdil karena kalah tinggi dengan bangunan-bangunan ruko di sekitarnya.
Tegak lurus terhadap stasiun sekarang adalah jalan besar, dan disanalah deretan ruko serta pasar berdiri. Sejajar dengan rel di depan stasiun juga ada jalan yang membawa kita menuju pantai Gondoriah, pantai wisata kota Pariaman. Kita bisa makan nasi SEK disana. Eits, jangan salah. Nasi SEK adalah istilah lokal yang artinya nasi SEribu Kanyang (Kenyang). Tapi itu dulu, waktu istilah itu baru diciptakan. Sekarang,jangankan kenyang, nasi apa yang bisa dapat dengan duit cuman seribu perak????? :) jangkenyang, nasi apa yang bisa dapat dengan duit cuman seribu perak????? :)

Baca Selengkapnya ....

Lembah Anai - Desember 1892

Posted by Ferry Setia Budi 2 comments




       Foto ini merupakan hasil jepretan seorang fotografer terkenal yaitu C. Nieuwenhuis pada bulan Desember 1892. Sekarang merupakan koleksi dari KITLV di Leiden, Belanda. Teks pada laman KITLV yang mengiringi foto ini adalah :
Jembatan beratap dari Perkeretaapian Negara di pantai barat Sumatra di Lembah Anai dengan latar belakang saat banjir air terjun besar "Air Mantjoer" pada bulan Desember.
Perhatikan bahwa pada saat itu jembatan diberi atap. Ini mungkin berguna untuk orang berteduh saat hujan, mengingat kendaraan yang ada pada saat itu adalah kuda (selain kereta api).
Yang berkelok mulus di bagian atas, adalah jalan kereta api. Sedangkan jalan raya hanya sepenggal. Dari jembatan beratap, jalan itu sepertinya lenyap. Mungkin sebagian besar adalah jalan setapak atau malah belum ada. Hal ini karena jalan kereta api lah yang lebih dahulu di bangun oleh Belanda pada akhir abad ke-19 sebelum membenahi jalan raya antara Padang-Bukittinggi.
Yang menarik lagi adalah bahwa Belanda ikut menyebut air terjun itu dengan nama Air Mancur. Padahal sebenarnya nama itu kurang tepat. Air Mancur mestinya menyembur dari bawah, kan?

Selanjutnya terbaca juga bahwa pada masa itu belum ada yang namanya cuaca ekstrim. Buktinya banjir besar masih bulan Desember. Masih sesuai pakem. Bulan ber-ber-ber artinya harus siap-siap dengan ember!


Baca Selengkapnya ....

Asal Mula Orang Pariaman

Posted by Ferry Setia Budi 0 comments


Tepat tanggal 2 Juli 2011, Kota 
Pariaman sebagai kota otonom dalam Pemerintahan Republik Indonesia 
diperingati berusia 9 tahun. Karena kota Pariaman sebagai kota otonom 
lahir berdasarkan surat keputusan Presiden yang diserahkan oleh Menteri 
Dalam Negeri RI Hari Sabarno tanggal 2 Juli 2002 di halaman kantor 
Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat Desa Depdagri, Jakarta. 

[Image: tabuik-pariaman.jpg]

Kota Pariaman ini lahir berdasarkan Undang-Undang No. 12 tahun 2002 
tanggal 10 April 2002 tentang pembentukan Kota Pariaman Propinsi 
Sumatera Barat yang ditandatangani oleh Presiden RI Megawati 
Soekarnoputri. Undang-Undang tersebut diundangkan ke dalam Lembaran 
Negara RI dengan nomor urut 25 tahun 2002 oleh Sekretaris Negara RI 
Bambang Kesowo. 



Namun jauh sebelumnya, dari mana asal penduduk Pariaman. Jika dilihat 
masa silam kota Pariaman, maka Pariaman merupakan salah satu daerah 
rantau dari Minangkabau, seperti halnya Padang, Pasisia, Tiku. Menurut 
struktur pemerintahan adat Minangkabau, rantau Pariaman dinamakan 
rantau Riak Nan Mamacah. Maksudnya, di mana harta pusakanya juga turun dari garis ibu. Sedangkan gelar (gala)
pusaka, juga turun dari garis Bapak. Warisan gelar setelah berumah 
tangga turun dari bapak seperti Sidi, Bagindo dan Sutan. Gelar itu 
merupakan panggilan dari keluarga isteri yang lebih tua dari umur isteri
kepada seorang laki-laki. Warisan dari bapak ini hanya ada di Pariaman
Penduduk Pariaman umumnya turun dari Luhak Tanahdata. Selain itu juga 
dari Luhak Agam pada bagian Utara. Sedangkan bagian sebelah Selatan 
justru turun dari Solok. Meski demikian, tetap saja mereka yang turun 
dari Luhak Tanahdata menjadi pemegang utama roda pemerintah. 
Abdul Kiram dan Yeyen Kiram dalam bukunya Raja-Raja Minangkabau Dalam Lintasan Sejarah (2003;51-52)
mencatat, nenek moyang yang mula-mula turun dari Luhak Tanahdata ada 
sebanyak empat orang Penghulu beserta rombongannya. Yakni Datuk Rajo 
Angek, Datuk Palimo Kayo, Datuk Bandaro Basa, dan Datuk Palimo Labih. 
Amanah dari Yang Dipertuan Pagaruyung, di mana jika rombongan berada 
pada sebuah tempat yang tidak diketahui namanya, maka segeralah diberi 
nama dan tanda. 
Akhirnya tempat itu diberi nama Kandangampek. Karena rombongan mereka 
berjumlah empat. Tidak lama kemudian, di tempat yang sama datang lagi 
satu rombongan dipimpin Datuk Makhudum Sabatang Panjang. Kedua rombongan
bergabung dan sepakat bersama-sama turun ke bawah menuju arah Barat. 
Selanjutnya, rombongan menemukan sebuah tempat yang agak tinggi, tapi 
belum diketahui namanya. Salah seorang anggota rombongan, menanamkan 
sebatang pohon sebagai pembatas antara Luhak dan Rantau. Di tempat itu 
rombongan sepakat menamakan Kayutanam. Daerah inilah yang membatasi 
Luhak (darek) dengan Rantau. Berbatas dengan Bukit Barisan yang melingkari Padangpanjang. 
     Perjalanan kelima orang Penghulu tersebut diteruskan sampai ke 
Pakandangan. Di sini mereka membangun perkampungan. Tidak lama kemudian 
datang lagi ke Pakandangan enam orang Penghulu dari Tanahdata, yakni 
Datuk Simarajo, Datuk Rangkayo Basa, Datuk Rajo Mangkuto, Datuk Rajo 
Bagindo dan Datuk Mangkuto Sati.
     Keenamnya bergabung dengan rombongan yang datang sebelumnya. Luas 
perkampungan diperluas sampai ke Sicincin. Sebagai penghormatan, khusus 
lima orang Penghulu yang datang pertama, mereka ditempatkan di 
tengah-tengah kampung. Sedangkan enam Penghulu yang datang belakangan, 
melingkari tempat kediaman lima Penghulu tersebut. Daerah ini akhirnya 
bernama Anamlingkung. Kedatangan dua gelombang, untuk mengingatnya 
dijadikan Kecamatan 2 X 11 Anam-lingkuang dengan ibukota Sicincin. Kini 
kecamatan ini sudah dimekarkan menjadi tiga kecamatan. Yakni, 
Anamlingkung, 2 X 11 Anamlingkuang Sicincin dan 2 X 11 Kayutanam. Dari 
daerah-daerah ini, mereka terus menyusuri hingga ke pantai Pariaman. 
     Ada juga yang menyebutkan penduduk Pariaman dari Tanahdata turun 
melalui Malalak. Di Malalak rombongan terbagi dua kelompok. Satu 
kelompok langsung menuju Pariaman, satu kelompok lagi menuju 
Kampungdalam. Kuatnya hubungan kekeluargaan dengan Malalak ini dapat 
dilihat dari adanya kunjungan dari orang yang berada di Pariaman, tapi
berasal dari Malalak, kepada keluarga asal di Malalak.

[Image: Hoyak-Tabuik-Piaman.JPG]



Pariaman yang terletak di pinggir pantai, mudah dikunjungi pelaut dari berbagai 
negeri, menyebabkan mudahnya hubungan dengan daerah lain. Sehingga 
masyarakatnya pun mudah menerima perubahan, baik sosial, politik maupun 
agama.Tak heran sebagai wilayah yang berada di pinggir pantai dan di singgahi 
oleh berbagai pedagang, Pariaman belakangan dihuni tak hanya dari 
keturunan Minangkabau dari daerah darek. Di Pariaman terdapat 
pula keturunan keling (kaliang). Mungkin karena warna kulitnya lebih 
hitam, maka disebut saja kaliang. Sehingga jika ada anggota keluarga 
rang Pariaman, sering dikatakan kulitnya hitam kaliang. Bahkan 
sebelum proklamasi Indonesia 17 Agustus 1945, di Pariaman juga banyak 
terdapat keturuan Tionghoa (Cina). Bukti peninggalan keturunan Tionghoa 
yang tidak bisa dibantah adalah kuburan keturunan Tionghoa di Toboh 
Palabah dan nama daerah Kampungcino. 
     Sedangkan bangsa penjajah (Belanda, Inggris dan Jepang), yang pernah 
bermukim di Pariaman, hingga kini tak diketemukan lagi buktinya. Penulis
hanya pernah mendapatkan informasi di sekitar Kampung Perak ada kuburan
Belanda. Namun kini sudah menjadi areal perkantoran, yakni Kantor 
Kesbang Linmas Kabupaten Padangpariaman. 
Meski penduduk Pariaman sudah bercampur, tapi tetap memakai adat 
Minangkabau dalam kesehariannya. Hanya saja, sebagai daerah rantau, di 
Pariaman tidak diketemukan rumah gadang seperti di daerah darek. Rumah 
gadangnya tidak bergonjong sebagaimana rumah gadang di daerah darek 
seperti tanduk kerbau. 


Baca Selengkapnya ....

Pandai Sikek

Posted by Ferry Setia Budi 0 comments


[Image: tenun2.jpg]

Tidak ada sejarah yang pasti tentang kapan tenun songket mulai dikembangkan di Minangkabau atau di Pandai Sikek. Akan tetapi kepandaian menenun tetuntulah sudah dibawa oleh nenek moyang kita bangsa Austronesia atau yang disebut juga Malayo-Polynesia, dari Tanah Asal, ketika terjadi migrasi besar-besaran penduduk dari daratan Asia ke arah selatan dan timur beberapa ribu tahun yang lalu, bersamaan dengan segala kepandaian yang esensial untuk kehidupan, seperti kepandaian bercocok tanam, kepandaian membuat dan menggunakan alat-alat pertanian dan pertukangan dan senjata, dan sebagainya. Sesuai dengan fitrah manusia, kepandaian dasar pertukangan tentu mengalami pengkayaan estetika sehingga menjadi apa yang sekarang dikenal dengan istilah kerajinan, dan kemudian menjadi seni. Hal ini sejalan dengan perkembangan di bidang ekpresi lainnya seperti seni gerak, seni suara dan seni pementasan. Sebagai warisan demikian, tenun bisa dikatakan sama umurnya dengan stelsel matrilinial orang Minang, terukaan sawah di Luhak nan Tigo, dan budaya lisan Kato Pusako pepatah petitih.

Di sini juga kita menemukan kesamaan rumpun Austronesia pada kain tenun Sumatra pada umumnya dengan seluruh kain tenun Nusantara hingga ke Sumba dan Timor, juga dengan tenunan La Na di Thailand utara dan Laos. Rumpun ini akan memecah nanti di lihat dari segi kahalusan motif setelah masuknya kebudayaan India dan Cina dari utara. Akan tetapi kesamaannya beretahan di segi peralatan tenun dan teknik bertenun.

Beberapa ratus tahun yang lalu, di hulu sungai Batanghari, yang disebut Sungai Dareh, berkembang suatu pemukiman dan pusat perdagangan yang makmur. Penduduk dari daerah yang sekarang disebut Alam Surambi Sungai Pagu, dan dari daerah-daerah yang lebih ke utara lagi, datang ke tempat ini untuk menjual hasil-hasil alam berupa rempah-rempah dan emas. Daerah ini dikunjungi pula oleh pedagang-pedagang yang datang dari seberang laut, dari India dan Cina. Kaum wanita di daerah ini memakai pakaian yang lebih cantik bagi ukuran masa itu, istilah sekarang: lebih fashionable.

Daerah ini kemudian terkenal dengan nama kerajaan Darmasyraya. Inilah cikla-bakal kebudayaan Melayu. Bertahun-tahun daerah ini menjadi titik pertemuan ekonomi dan budaya antara kebudayaan-kebudayan yang sudah lebih kaya dan maju di utara, Cina, Mongol dan India, dengan budaya lokal. Dalam kurun beberapa puluh tahun itu, atau mungkin sampai dua ratus tahun, setalah mengalami pergantian raja-raja dan penguasa, penduduknya menyerap banyak ilmu dan teknologi dari bangsa asing, disamping kemajuan bidang ekonomi dan politik yang memperkaya dan meningkatkan mutu kebudayaan lokal. Diantara kemajuan yang dialami adalah dalam bidang pakaian dan teknik bertenun, beserta pengkayaan corak motif dan bahan-bahan yang dapat dipergunakan.

Kalau sebelumnya, sesuai dengan perkembangan masyarakat, orang membuat pakaian dari benang yang dibuat dari bahan-bahan yang tersedia di tempat pemukiman mereka, seperti serat kulit pohon, dengan perkembangan perdagangan orang-orang India memperkenalkan bahan dari serat kapas dan linen, juga benang yang disalut dengan lempengan emas tipis. Pedagang Cina membawa benang sutra yang berasal dari kepompong ulat sutra, juga benang yang dibungkus dengan emas kertas kemudian dikenal dengan nama emas prada sehingga bisa diperkirakan bahwa pedangang India pun banyak memperdagangkan bahan tersbut.

Pada tahun 1347 Adityawarman memindahkan pusat kerajaan dan kebudayaan Melayu dari Darmasyraya ke Pagaruruyung, dan kawasan di sekitar gunung Merapi dan Gunung Singgalang yang pada waktu itu terdiri dari Luhak nan Tigo dan Rantaunya yang Tujuh Jurai, menjadi terkenal sebagai Alam Minangkabau, dengan beberapa pusat pemerintahan yang tersebar di Pariangan, Sungai Tarok, Limo Kaum, Pagaruryung, Batipuh, Sumanik, Saruaso, Buo, Biaro, Payakumbuh, dan lain-lain.

Alam Minangkabau dengan falsafah alam yang dianut masyrakatnya, alur dan patut serta alam takambang jadi guru, sangat memberi peluang bagi tumbuh dan berkembangya kebudayaan dan kesenian dengan pengkayaan dari unsur-unsur budaya asing. Susunan masyarakat yang bersuku-suku eksogami dan, yang lebih utama lagi, aturan sumando manyumando, telah mengeliminir konflik antar kelompok sehingga kedamaian dapat terwujud dalam jangka waktu yang panjang dan memberi kesempatan bagi anak nagari untuk memperlajari dan memperhalus ilmu-ilmu dan keterampilan termasuk keterampilan bertenun.

Daerah Batipuh, sebagai salah satu pusat pemerintahan, kedudukan Tuan Gadang Batipuh sebagai Harimau Campo Koto Piliang, dapat diduga menjadi salah satu daerah yang amat penting pada masa kejayaan Minangkabau dahulu, bersama daerah-daerah lain yang tersebut diatas. Sejalan dengan keadaan itu, masyarakatnya tentu mandapat kesempatan yang lebih banyak pula untuk melakukan kegiatan ekonomi dan budaya termasuk keterampilan tenun sehingga mutu dan corak kain tenun semakin tinggi dan halus. Gadis-gadis menenun kain sarung dan tingkuluk dengan benang emas untuk dipakai ketika mereka menikah, dan perempuan lainnya menenun kain untuk dijual.

Adat istiadat di Minangkabau mendorong kegiatan bertenun ini lebih jauh lagi karena pada setiap kesempatan upacara adat, kain tenun selalu wajib dipakai dan dihadirkan. Kata-kata adat dinukilkan di dalam nama-nama motif sehingga menjadi buah bibir dan diucapkan setiap saat. Kain tenun menjadi pakaian raja-raja, datuk-datuk dan puti-puti. Dimasa inilah, dimasa kejayaan Turki Usmani dan Asia Tengah, pada puncak kebesaran Dinasti Mongol di India ketika Sultan Akbar, 1556-1605 sangat memajukan seni dan ilmu pengetahuan, pada masa kejayaan Dinasti Ming dan Manchu di Cina: ketika itu pertukaran perdangangan dan budaya sedang sangat pesat dan melibatkan Minangkabau sebagai suatu kawasan yang menjadi lintasan perdagangan dan juga negri yang mempunyai komoditi dagang yang penting yaitu rempah-rempah dan emas, seni menenun kain dangan sutra dan benang emas di Sumatra, bersamaan dengan suji dan sulaman pun mencapai puncak kemajuannya dan menemukan ciri khasnya tersendiri.

Hampir semua pelosok Minangkabau, dari Luhak sampai ke rantau, mempunyai pusat-pusat kerajinan tenun, suji dan sulaman. Masing-masih mengembangkan corak dan ciri-cirinya sendiri, hal yang sangat dikuasai oleh para pedagang barang antik dan kolektor. Beberapa nagari yang terkenal sekali dengan kain tenununya dan sangat produktif pada masa itu adalah Koto Gadang, Sungayang, dan Pitalah di Batipuh, dan nagari yang melanjutkan tradisi warisan menenun hari ini adalah nagari yang termasuk Batipuh Sapuluh Koto juga yaitu Pandai Sikek.

Motif-motif kain tenun Pandai Sikek selalu diambil dari contoh kain-kain tua yang masih tersimpan dengan baik dan sering dipakai sebagai pakain pada upacara-upacara adat dan untuk fungsi lain dalam lingkup upacara adat, misalnya sebagai Ć¢€Å“tando,Ć¢€ dan juga dipajang atau digelar pada waktu batagak rumah.

Sulit mengatakan siapa yang dapat dikatakan sebagai master tenun hari ini; tetapi diantara ahli tenun yang terkenal pada generasi sebelum kita ada nama-nama Sari Bentan, Namun, Salamah di Baruah; Nuriah, Ipah, Pasah, Nyiah dan Jalisah di Tanjung.

Ada belasan orang master tenun di Pandai Sikek pada zaman itu. Akan tetap kira-kira seratus tahun yang lalu diyakin beberapa wanita Pandai Sikek sangat aktif dibidang usaha dan kerajinan menenuni ini sehingga nama julukan mereka yang terambil dari peralatan tenun lebih dikenal sampai sekarang. Diantaranya, dikenal nama-nama Inyiak Makau di Tanjuang, Inyiak Suri di Koto Tinggi, Inyiak Banang, dan Inyiak Karok.

Pandai Sikek, sebagai Ć¢€Å“center of excelleceĆ¢€ di bidang tenun songket waktu itu, tentu wanita-wanitanya sudah mengerjakan juga berdasarkan permintaan tenunan yang khas dari daerah-daerah lain seperti dari Pitalah di Batipuah, Koto Gadang di Agam dan dari Sungayang dengan corak benang dan motif yang spesifik dengan daerah tersebut, dan dikenal sampai sekarang sebagai motif-motif Sungayang, motif Koto Gadang dan lain-lain.(pandaisikek.net) 

Baca Selengkapnya ....

Perang Kamang

Posted by Ferry Setia Budi 0 comments


Memperingati perlawanan
rakyat Kamang yang dikenal dengan Pemberontakan Pajak Ke-104 yang jatuh
pada 15 Juni 2012, penulis ingin menye­garkan kembali ingatan tentang
peristi­wa yang oleh Taufik Abdullah (2010) dipandang sebagai awal bagi
Era Ke­bang­saan Indonesia. Kesadaran anti ter­hadap penjajahan Bung
Hatta-pun diper­caya berawal dari peristiwa ini, ketika sang proklamator
melihat “urang rantai” yang digiring Belanda lewat di de­pan rumah beliau, dan Inyiaknya ber­kata: “Tu urang Kamang nan malawan Bu­lando” (Memoir Muhammad Hatta, 1979).

Pengakuan Pemerintah RI terhadap peristiwa tersebut tertulis di dalam lembaran sejarah secara
resmi. Bukti pengakuan tersebut setidaknya telah diberikan di dalam
beberapa bentuk seperti Sambutan Menteri Pertama Chaerul Saleh dalam
Peringatan Perang Kamang pada 15 Juni 1962 di Gedung Kesenian Jakarta,
kunjungan Menteri Koordinator Keamanan dan Pertahanan RI Jenderal AH
Nasution pada 15 Juni 1963 di Kamang, sekaligus meresmikan Taman Makam
Pahlawan dan Tugu Peringatan Perang Kamang.
Namun, dengan berjalannya
waktu serta terlewatinya berbagai peristiwa yang datang kemudian, maka
pemaha­man masyarakat (termasuk oleh rakyat Kamang sendiri) tentang
peristiwa penting itupun memudar. Di antaranya kekeliruan atau
kesalahpahaman dalam memahami nama tempat (toponimi) dan kurang
mendalami letak serta kondisi geografis Nagari Kamang yang sebenarnya.
Padahal, penderitaan rakyat Kamang sesudah peristiwa itu tidak kurang
pula beratnya. Banyak keluarga yang terpaksa bercerai-berai karena harus
melarikan diri dari kampung-halaman untuk mencari ketenteraman hidup,
sementara suasana di nagari juga menjadi semakin tidak menentu.
Di antaranya Sjech M.Djamil Djambek ulama terkenal dari Bukittinggi yang selama
bertahun-tahun datang secara rutin ke Kamang untuk mem­bangkitkan
motivasi dan memberi bimbingan rohani bagi masyarakat yang menanggung
beban penderitaan dan trauma hebat akibat perang tersebut, utamanya
mereka yang memilih untuk tidak meninggalkan nagari “nan elok” ini.
Menurut tambo nagari, kata Ka­mang digunakan oleh penduduk yang datang pertama kali ke daerah ini dengan memberi nama kamang untuk
pohon kayu besar tempat mereka berteduh. Versi lain menyebutkan
kosa-kata itu diambil dari pertanyaan kepala rom­bongan kepada
anggotanya, yaitu : “Kamanga awak lai?”. Untuk selan­jutnya
disepakatilah wilayah ini dengan nama Nagari Kamang. Diperkirakan
rombongan pertama yang datang ke daerah ini (di Dusun Gobah) terjadi
pada abad ke-XIV Masehi dimasa kejayaan Kerajaan Pagaruyuang, program
yang merupakan perluasan pengaruh wilayah kerajaan. Nagari ini memiliki
ciri-ciri geografis yang jelas, seperti dataran yang dibatasi oleh
sungai atau batas alam (parit, parak rajo, dan aua baduri yang mirip
benteng pertahanan) dengan nagari tetangga. Hingga saat ini batas-batas
yang jelas dengan nagari bersebe­lahan masih dapat diketahui. Pemaha­man
masyarakat nagari sekitar, seperti dari Magek, Salo, Kotobaru,
Tilatang, ter­masuk Bansa-Pauah (yang dalam tambo juga disebut Nagari
Bukik) maupun masyarakat Luhak Agam pada umum­nya, bahwa yang disebut
Kamang hanya­lah untuk Nagari Kamang Hilia sekarang ini.
Setelah meletusnya Perang
Kamang, maka struktur pemerintahan berubah-ubah. Nagari Kamang dihapus
(berubah nama menjadi Nagari Aua Parumahan) dan merupakan bagian wilayah
Admi­nistrasi Onderdistrick Baso. Sementara itu, Nagari Suayan-Sungai
Balantiak menjadi bagian dari Luhak 50 Koto. Meskipun nagari ini
dipisahkan oleh berlapisnya bukit (Bukit Barisan) dengan Nagari Kamang,
tetapi perhubungan dan pergaulan antar masyarakatnya sejak zaman dahulu
sangat baik. Bahkan kekerabatan di dalam persukuanpun sangat erat (ba-balahan).
Seperti yang diungkapkan sendiri oleh Tan Malaka (satu dari empat Bapak
Bangsa), beliau dari pihak ibu berasal dari Dusun Simabua Nagari
Kamang, yang karena perkembangan kaum perlu mencari tempatan baru dan
kemudian memu­tuskan untuk menetap di Nagari Pandan Gadang (Suliki,
Luhak 50 Koto).

Uraian ini dapat pula diistilahkan sebagai “dakek buliah dikakokkan, jauah buliah ditunjuakkan” dengan memberikan data dan fakta di lapangan tentang kosa-kata kamang
ataupun Nagari Kamang, sekaligus sebagai koreksi terhadap buku
Pemberontakan Pajak 1908 Perang Kamang (karangan Rusli Amran tahun 1988)
yang dalam beberapa penyebutan nama tempat (lokasi) kurang tepat.
Sehingga telah mengaburkan peristiwa yang sebe­narnya. Termasuk pula
kerancuan dalam penyebutan nama yang berawal pada tahun 1949, sewaktu
beberapa orang tokoh masyarakat (yang mengatas­na­makan nagari)
mengadakan kesepaka­tan di Dusun Anak-aie (Nagari Kamang) untuk
menambahkan kata “hilia” untuk Nagari Kamang, sehingga menjadi
Nagari Kamang Hilia/Hilir. Sementara untuk Nagari Bukik (yang disebut
juga Nagari Surau Koto Samiek) diubah menjadi Nagari Kamang
Mudiak/Mu­dik. Be­rikutnya sebuah “ngalau” (goa) yang sejak dahulu dikenal sebagai Ngalau Durian, setelah kesepakatan itu dipo­pulerkan dengan nama Ngalau Kamang.
Begitu berartikah nama  Kamang? Atau memang apalah artinya nama! Kata bersayap yang sering
diucapkan untuk mengecilkan arti sebuah nama. Inilah yang perlu
dilakukan analisis sepanjang sejarah kata kamang digunakan.
Se­waktu perjalanan sejarah dapat dibelok-belokan, cermatilah dengan
seksama penulisan buku sejarah yang tidak akurat seperti dilakukan oleh
Rusli Amran, yang bukan sejarawan tetapi hanyalah “pa­ngumpua nan taserak”.
Meskipun yang bersangkutan telah berjanji untuk mengkaji ulang, tetapi
penulis itu meninggal sebelum sempat melakukan revisi karyanya tersebut.
Dari laporan Pemerintah Hindia Belanda menjelang akhir abad ke-XVIII (Kebangkitan Islam Dalam
Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, Sumatera Tengah 1784-1847 oleh
Christine Dobbin, 1992), nagari ini dideskripsikan memiliki topografi
relatif datar dan dilewati oleh sungai permanen, yang menjadikan daerah
ini memiliki lahan sawah yang luas dan sangat potensial. Wilayah ini
dilingkungi oleh deretan perbukitan kapur yang hutannya ter­peli­ha­ra
dengan baik. Pada bagian lain diceritakan bahwa daerah ini memiliki
kekayaan dalam hal tanaman komoditi utama pada waktu itu (seperti kopi,
kayu manis, tebu, padi dan hortikultura), yang hasilnya memberi
keuntungan yang cukup bagi masyarakatnya. Mata penca­harian utama
penduduk adalah sebagai petani, pengrajin maupun tukang kayu.
Dilihat dari ketinggian daerah ini tampak seperti perkebunan tertutup, karena permukiman
penduduk terletak di bawah keteduhan pohon durian, manggis, kelapa,
sagu/enau, bambu dan bermacam pohon pisang. Juga tertutup kerimbunan
pepohonan/kayu bernilai cukup tinggi. Kesuburan tanah dan keindahan
alamnya, seperti kenam­pakan perbukitan hijau-kebiruan yang riuh dengan
kicauan burung dan suara satwa. Dengan sungai berkelak-kelok dan airnya
yang bersih serta tempat hidup subur berbagai jenis ikan, sehing­ga
cukup alasan untuk mengatakan daerah ini sebagai Tanah Kanaan II.
Sewaktu jeruk merupakan hasil pertanian utama Kabupaten Agam pada dasawarsa ‘80 – ‘90-an, yang
dicari adalah Jeruk Kamang. Perintis budidaya pertanian dan perkebunan
ini, yaitu Haji Adnan St Samiek memperoleh Penghar­gaan Kalpataru dari
Pemerintah. Jauh sebelum periode jeruk, jika orang ingin membeli buah
durian atau manggis maka yang juga dicari adalah Durian Kamang maupun
Manggis Kamang. Pernah suatu ketika harga manggis melambung sangat
tinggi, nilai yang sungguh tidak pernah dibayangkan oleh pembeli maupun
penjual. Beberapa kegiatan lain, seperti pembuatan pera­bot, kerupuk
serta berbagai hasil kera­jinan tetap merupakan andalan anak nagari
hingga saat ini.

Sebagai penutup naskah tentang Nagari Kamang yang dipublikasikan dalam rangka Peringatan Perang
Ka­mang 2012 (juga atas permintaan tokoh masyarakat Haji Akhyar Khatib
Malano), perlu pula disampaikan semoga tulisan yang disiapkan dengan
bahan yang memadai ini memenuhi syarat untuk dapat dikatakan “alah di kapak-kapak lakek parmato, alah di garih makan pahek” dan “baguno” bagi masyarakat. Dirgahayu Pemberontakan Pajak Ke-104 (Perang Kamang).

Baca Selengkapnya ....

Monumen Michiels (1855)

Posted by Ferry Setia Budi 0 comments


 

Pernahkah dunsanak membayangkan bahwa di Padang pernah berdiri sebuah monumen terbesar di pulau Sumatera? Jika belum, mari tengok gambar di samping ini. Namanya Michiels Monument atau Monumen Michiels bahasa kitanya.
Monumen ini didirikan pada tahun 1855 di Michielsplein (Lapangan Michiel) atau kira-kira berlokasi di Taman Melati sekarang. Terbuat dari besi tuangan dengan lantai marmer dan full relief di dinding luarnya. Dengan ujung-ujung yang meruncing yang terdiri dari beberapa tingkat, kesan bangunan Eropa kuno tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Berapa tingginya? Ambo belum menemukan referensi yang pasti. Tapi dari foto yang ditampilkan pada cover buku karangan Antropolog Belanda Freek Colombijn, dapat kita bandingkan ketinggian Michielsmonument dengan tinggi dua orang Meneer yang berpose-ria di depannya. Sekitar 8 kali. Jika ketinggian rata-rata orang Belanda pada waktu itu adalah 180 cm, maka ketinggian monumen ini adalah sekitar 14,4 meter atau setinggi gedung 5 lantai kurang lebih. Bisa dibayangkan?

Sebenarnya monumen yang bentuknya mirip seperti Monumen Michiels ini di Hindia Belanda ada 3 buah. Selain di Padang, juga ada di Batavia. Tepatnya di Waterlooplein (Lapangan Waterloo) atau sekarang dikenal dengan Lapangan Banteng. Posisinya kira-kira di sudut timur Mesjid Istiqlal sekarang. Sebagaimana terlihat di foto di samping ini, monumen ini terlihat lebih "gemuk" dibanding yang di Padang. Namanya? Sama. Michiel Monument juga. Dibangun juga pada kisaran tahun yang sama yaitu antara tahun 1853-1855.
Satu lagi berada di Surabaya. Meskipun di Surabaya, tapi namanya Bali Monument. Dibangun pada tahun 1869. Diberi nama Bali Monument karena dibangun untuk memperingati kemenangan Belanda di Bali pada tahun 1849. Sayang setelah mengobrak abrik dunia maya, ambo belum berhasil menemukan satupun fotonya. Posisinya sekarang kira-kira di depan kantor Polwiltabes Surabaya.
Lantas kenapa ada 3 monumen, bahkan 2 dengan nama yang sama? Kalau dirunut ke belakang, monumen-monumen ini mengacu kepada satu orang, yaitu Mayor Jenderal Andries Victor Michiels.
Generaal Majoor ini dianggap berjasa besar kepada pemerintah kolonial Belanda dan mempunyai prestasi yang gilang gemilang di tanah jajahan.
Lahir di Maastricht (Nederland), 23 April 1797, pertama kali mendarat di Jawa pada tahun 1817 dengan pangkat Letnan Satu. Setelah terlibat dalam perang Cirebon dan Diponegoro, pada 1831 ia dipindahkan ke Sumatra Utara. Selanjutnya diangkat menjadi komandan militer untuk Sumatera Barat dengan pangkat Letnan Kolonel. Ia dianggap berjasa dalam menaklukkan perlawanan Tuanku Imam Bonjol.
Atas keberhasilannya tersebut, pada 1837 pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel. Tahun 1838 ia ditugaskan sebagai Gubernur Sipil dan Militer di Sumatra Barat. Pada masa jabatan ini beberapa daerah dapat dikuasainya. Atas jasa-jasanya ini pada tahun 1843 pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor Jenderal.
Pada 1849, karirnya semakin menjulang dengan diangkat sebagai Komandan KNIL di Batavia. Ia lalu memimpin ekspedisi menumpas perlawanan di Bali. Ia tewas terbunuh disana pada tahun yang sama dan dimakamkan di pemakaman Kristen Kebon Jahe Kober, Kerkhof Laan (kini Jl Tanah Abang I), Jakarta Pusat. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Museum Taman Prasasti.
Untuk mengenang jasa-jasanya itulah pemerintah kolonial Belanda membangun ketiga monumen tersebut. Sayangnya tidak satupun dari ketiganya yang masih berdiri hingga kini. Berkemungkinan mereka dirobohkan pada zaman penjajahan Jepang atau pada awal-awal kemerdekaan.
Tinggallah foto-foto ini sebagai bukti keberadaan Michielsmonument di Padang...



Foto Atas : Tahun 1895
Foto Tengah : Tahun 1900
Foto Bawah : Tahun 1910




(Dari berbagai sumber, foto koleksi Tropen Museum, KITLV dan 

Baca Selengkapnya ....

Pembuatan Jalan Teluk Bayur - Bungus

Posted by Ferry Setia Budi 0 comments


     Foto tak bertanggal diatas aslinya berjudul "Pembuatan Jalan Emmahaven - Bungus". Sekarang mari bermain logika sederhana. Pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur dibuka tahun 1892. Jika foto ini menggunakan istilah "Emmahaven" maka dapat diasumsikan bahwa foto ini diambil sesudah tahun 1892. Dari arahnya juga dapat dilihat bahwa foto ini diambil dari arah Bungus, karena bukit terletak di sebelah kanan dan jurang (laut) berada di sebelah kiri foto.
     Melalui foto diatas kita dapat mengetahui bagaimana jalan yang kita lewati sekarang dibuat dulunya. Jika diamati, ada 4 kelompok manusia yang berperan dalam foto diatas. Kelompok pertama, berbaju hitam, bertopi lebar, bersepatu boot dan bersenjata. Mereka adalah kelompok serdadu. Dalam foto ini mereka berdiri di sisi kiri dan kanan jalan dalam jarak yang cukup rapat dan menghadap kamera.
Kelompok kedua, berbaju putih, bertopi dan berdiri. Kemungkinan mereka adalah para mandor. Mereka juga menghadap kamera.
     Kelompok ketiga, berbaju agak gelap, bukan putih, bukan hitam, kemungkinan kuning khaki (karena foto ini tidak berwarna), bertopi bundar dan berdiri. Dari topi dan caranya berdiri menghadap kamera sambil mengangkang dan bertolak pinggang, jelas kelihatan merekalah kelas tertinggi dalam kelompok orang ini. Merekalah para "toean" alias bangsa Belanda. Kemungkinan mereka adalah para insinyur jalan. Dalam foto ini mereka berada di tengah-tengah foto.
    Kelompok ke empat, berbaju kulit (alias tidak berbaju) dengan kulit mengkilat berwarna tembaga akibat terbakar matahari, berjongkok dan memakai tutup kepala dari lilitan kain (atau tidak sama sekali), merekalah bangsa kita, bangsa yang sedang terjajah pada saat itu. Dari tangan merekalah sebenarnya bukit-bukit dipotong untuk membuat jalan menjadi lebar, batu-batu cadas dipecah dengan tangan dan selanjutnya disusun satu demi satu menjadi lapisan jalan berbatu yang sampai sekarang masih dikenal dengan nama onderlaag. Betapa berat kerja mereka. Jangan pernah berbicara upah, karena kehadiran serdadu di foto saja sudah dapat diartikan bahwa mereka bekerja tidak dalam kondisi yang wajar. Mungkin mereka adalah kuli murah atau malah tenaga rodi. Meskipun juga tidak dipungkiri bahwa pada saat itu karena tingkat keamanan yang rendah maka kehadiran serdadu selalu diperlukan dalam kegiatan apapun. Apalagi kegiatan menembus rimba seperti ini.
Selanjutnya untuk memadatkan barulah bekerja si stoomwals alias gilingan bermesin uap, sebagaimana ilustrasi di samping. Sayangnya ambo belum menemukan arsip foto si setrika bumi kecil yang sedang beroperasi di ranah minang jaman itu, sehingga ambo terpaksa menggunakan foto arsip lain untuk memberi sedikit gambaran. Oya, ambo pernah melihat stoomwals jenis ini sudah jadi monumen di sekitar daerah Lubuk Sikaping. Kalau ada kesempatan ke sana akan ambo upload disini fotonya. Mungkin orang-orang yang lewat disana juga tidak begitu memperhatikan monumen itu, sebagaimana juga ambo. Tetapi ternyata banyak jasanya. :)
(foto koleksi Tropen Museum - Amsterdam dan www.dordtinstoom.nl)

Update : Tambahan info bahwa lokasi pengambilan gambar itu berada di bawah kelok jariang, di tempat yang bernama Batu Ba-apik.sebuah foto dari tahun 1920 dengan catatan : Harap perhatikan pertumbuhan pohon durian si sebelah kiri jalan. Jika diperhatikan, memang lokasi ini mirip. Dari pohon duriannya (yang sudah bertambah besar), bentuk tebing di sebelah kanan, susunan batu pembatas jurang di sebelah kiri jalan dan.....jalan yang terbuat dari batu-batu pecah yang disusun...! Selamat mengamati..!


Baca Selengkapnya ....

Kunjungan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum ke Padang (1916)

Posted by Ferry Setia Budi 0 comments


 Kunjungan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum ke Padang (1916)

Pada suatu hari di tahun 1916, kota Padang berbenah diri, bersiap menyambut kedatangan seorang tamu agung yaitu wakil mahkota Ratu Belanda di Hindia Belanda. Siapa lagi kalau bukan sang Gubernur Jenderal Johan Paul Graaf van Limburg Stirum. Jika dinilai sekarang, kunjungan ini setara dengan kunjungan pak SBY lah. Untuk kondisi transportasi yang ada pada saat itu, kunjungan ini luar biasa karena memerlukan pelayaran dengan kapal selama berhari-hari dari Batavia menuju Padang. Sebagai seorang Gubernur Jenderal, van Limburg Stirum terkenal sebagai gubernur yang agak liberal dibanding para pendahulunya, terutama terhadap anak jajahan. Ia berkuasa antara tahun 1916 - 1921. Pada masanya dibentuk Volksraad atau Dewan Rakyat yang melibatkan bangsa pribumi sebagai anggota. Dengan demikian hak politik mulai dimiliki oleh anak negeri. Karena itu pula ia kurang disenangi oleh sesama rekannya para pejabat Belanda.


Kembali ke cerita kita. Kunjungan sang Gubernur Jenderal tentu menyibukkan para pejabat lokal di Padang dan sekitarnya. Sampai-sampai harus membuat gerbang seperti yang tergambar disamping.
Gerbang itu dibuat meniru gerbang Arc de Triomphe di Paris tapi tentunya ala Padang. Dibubuhi tulisan Welkom te Padang yang artinya Selamat Datang di Padang. Dihiasi juga dengan bendera Belanda. Apakah terdapat juga warna marawa tidak begitu jelas.
Posisi persis gerbang ini berdiri tidak begitu pasti. Hal ini karena konstruksi jembatan dengan rangka baja melengkung seperti yang nampak di belakang gerbang itu tidak kita temui lagi sekarang, kecuali untuk jembatan kereta api. Jadi tidak ada pembanding.
Yang hampir dapat dipastikan adalah posisi jembatan ini berada di batas kota Padang dari arah pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur. Itu karena sang penguasa turun dari sana.
Ditengah jembatan berdiri dengan gagahnya mengendarai kereta angin seorang ambtenaar berbaju beskap putih. Mungkin kalau sekarang, dia itu polantasnya, biar jangan ada yang lewat atau melintas (lagipula siapa berani? :)). Disampingnya, persis di bawah pilar, berdiri seorang pejabat pribumi dengan saluaknya. Mungkin angku damang atau angku kapalo nagari daerah tersebut. Ditengah jembatan juga masih banyak orang berdiri. Siapa tahu salah satunya disana adalah paspamgubjen alias paspampres masa itu?
Rakyat juga berdiri menanti di pinggir jalan dengan pakaian bagus. Seperti hari raya saja layaknya. Baju bersih dan berkain sarung serta berkopiah, tua dan muda.
Tibalah saatnya. Kapal MS. Insulinde yang ditumpangi rombongan Gubernur Jenderal dari Batavia merapat di Emmahaven atau Teluk Bayur. Tidak diketahui apakah kapal itu dicarter seluruhnya ataukah rombongan itu berlaku sebagaimana penumpang biasa. Karena kalau sekarang, kepala negara kan mencarter satu pesawat?
Rakyat dan pejabat berbaur menjadi satu berdiri di tepi dermaga menantikan peristiwa bersejarah yang entah kapan terulang lagi. Kunjungan pejabat tertinggi Hindia Belanda ke Sumatera Westkust.



Selanjutnya foto-foto koleksi Tropen Museum Amsterdam akan berbicara lebih banyak. :)






Kapal MS Insulinde merapat di pelabuhan Emmahaven. Terlihat karpet (merah?) terbentang. Di atas kapal berjejer pria dan wanita berpakaian "wajib" berwarna putih melongok ke bawah.
Gubernur Jenderal (paling depan) menuruni kapal. Sepertinya memakai jas biasa, tidak dengan pakaian putih dan topi bundar sebagaimana pejabat-pejabat Belanda lainnya. Sementara beberapa langkah di belakangnya sang istri mengikuti, dengan dibantu seorang kru.
Dibawah sudah bersiap sedia 2 orang pejabat. Yang satu, berbaju hitam kemungkinan adalah kapten kapal atau setidaknya pejabat kapal. Dilihat dari topi yang dikenakannya. Sementara yang berbaju putih, ah, sudah pasti dia salah seorang penguasa di kawasan Sumatera's Weskust.
Sesampai di darat, Gubernur Jenderal dan istri berjalan menuju tempat penyambutan, dengan didampingi seseorang yang berpakaian putih dengan jas hitam dan celana putih. Mungkin tuan Residen. Sementara di belakang juga berdiri seorang nyonya, mungkin nyonya residen. Yang diatas juga masih celingak celinguk.

Rombongan sudah mendekati tempat penyambutan. Disebelah kanan gambar terlihat korps musik dengan terompet dan genderang. Di bagian depan terlihat barisan militer dengan topi berjambul dan diikuti dengan barisan pejabat sipil yang mengenakan pakaian berwarna putih.
Yang menarik, kapalnya terlihat agak miring ke arah dermaga. Apakah efek foto atau memang begitu? Ataukah karena pengaruh seorang Gubernur Jenderal itu begitu besar sehingga kapal juga harus dimiringkan ketika dia turun? Biar nggak terlalu jauh turun tangga mungkin?

Baca Selengkapnya ....

Mentawai 1900

Posted by Ferry Setia Budi 0 comments




Foto pantai Mentawai ini sangat kontras dengan image tentang Mentawai yang ada di kepala kita saat ini. Pantai ini sangat tenang, seperti danau saja layaknya. Padahal, saat ini Mentawai identik dengan salah satu tempat surfing terbaik di dunia dengan ombak menggelora yang diburu para surfer mancanegara. Lha, ombaknya dimana, mister?
Foto ini mungkin diambil di pantai Timur kepulauan Mentawai yang membelakangi Samudera Indonesia. Sementara surga para peselancar itu berada di pantai Barat. Menghadap langsung ke samudera. Jadi, ya...beda lokasi cuy.

Perkampungan dengan beberapa Uma atau rumah. Uma berupa rumah panggung beratap rumbia, tipikal rumah tradisional. Sepertinya ada jembatan menuju kompleks uma di seberang sana. Padahal tidak ada sungai. Kayu juga terlihat bergelimpangan. Mungkin kampung ini berada di daerah rawa, sehingga perlu jembatan dan kayu sebagai alas untuk berpijak.


Sebuah 'dermaga' di pinggiran kampung. Terus terang, melihat foto ini, ambo terbayang kepada gambar-gambar penaklukan bangsa Spanyol atas bangsa Indian di Amerika Selatan pada abad ke-16. Orang-orang bercawat mendayung kano, dengan latar belakang hutan perawan.
Mungkin juga bangsa Belanda yang pertama datang ke Mentawai berpikir bahwa mereka telah setara dengan Pizarro atau Cortez di Amerika sana. Mereka juga telah menjadi penakluk seperti kedua orang tersebut, minus jarahan berton-ton emas. Inilah penaklukan versi mereka.
O ya, lokasi foto ini diambil mungkin sekarang telah menjadi resort milik orang Australia atau Inggris atau Italia. Itulah 'penaklukan' versi baru di Mentawai...

Pada tahun 1900 bangsa Belanda telah berupaya memperkenalkan Mentawai kepada Eropa. Upaya itu antara lain dengan mencetak briefkaart atau kartu pos bergambar keunikan Mentawai. Agak rancu juga karena kartu pos itu ditulisi kata-kata "Salam dari Sumatra" karena Mentawai itu kan terpisah dari Sumatera?
Di kartu pos itu terpampang foto pasangan dari Pagai, perkampungan dan Raja Mentawai. Ndak jelas apa maksudnya Raja Mentawai, seseorang dengan cawat dan baju serdadu Belanda.
Keunikan yang tidak tampak di kartu pos itu adalah ombak besar. Mungkin pada saat itu olahraga surfing belum dikenal sehingga bagi pembuat kartu pos ini ombak ya ombak. Ndak ada istimewanya. Ndak ada uniknya.




Selain lewat kartu pos, Belanda juga memperkenalkan Mentawai melalui promosi langsung. Contohnya adalah pada foto di atas. Foto ini diambil pada tahun 1907. Tapi ini bukan di Mentawai. Ini di Bukittinggi. Acaranya adalah Pakan Malam atau Pasar Malam. Tidak ada keterangan apakah orang-orang Mentawai ini tidak kedinginan dengan berpakaian tradisional mereka di kaki Gunung Marapi dan Singgalang..

tidak kedinginan dengan berpakaian tradisional mereka di kaki Gunung Marapi dan Singgalang...

Baca Selengkapnya ....

Monumen Pemberontakan Batipuh (1920)

Posted by Ferry Setia Budi 0 comments




Untuk memperingati gugurnya beberapa serdadu Belanda akibat pemberontakan yang meletus di Batipuh (dekat Padang Panjang) pada tanggal 24 Februari 1841 , didirikanlah sebuah monumen seperti terlihat di atas.
Pemberontak menyerang tangsi Belanda di Guguk Malintang yang dipimpin oleh Letnan JB. Banzer. Dalam tangsi itu sendiri terdapat 2 perwira (termasuk Banzer), 10 prajurit Eropa, 35 prajurit pribumi tak berpangkat serta 44 wanita dan anak-anak pribumi.
Pada tanggal 25 Februari Prajurit F. Marien, Sosemito, dan SerMa J.C. Schelling terluka parah. Banzer lalu mengirim surat ke tangsi terdekat untuk meminta bantuan namun duta tersebut, prajurit Suroto dari Madura, dibunuh dan dimutilasi secara mengerikan dan mayatnya ditemukan di permukiman yang berada di depan tangsi.
Pada tanggal 27 Februari Banzer memutuskan untuk menyelinap keluar benteng saat hari gelap dengan meninggalkan 3 prajurit yang terluka, atas persetujuan mereka. Di luar tangsi, para prajurit, wanita, dan anak-anak melarikan diri selama 2 hari 2 malam, dan akhirnya diselamatkan oleh barisan yang dipimpin secara pribadi oleh Andreas Victor Michiels  yang kemudian maju ke wilayah yang bergolak itu.
Untuk mereka yang terluka dan gugur itulah akhirnya Belanda mendirikan monumen ini pada tahun 1920.

Foto-foto selanjutnya adalah rekaman dari upacara peringatan terhadap peristiwa di atas yang dilakukan di bawah monumen pada tahun 1930. Ambo belum mendapatkan informasi apakah peringatan ini dilakukan setiap tahun atau karena bertepatan dengan 10 tahun berdirinya monumen tersebut.
Terlihat banyak orang berkumpul di kaki monumen, yang sebagian berdatangan dengan mobil. Terlihat juga barisan serdadu dan barisan pejabat dan warga sipil. Para wanita terlihat mengenakan topi, khas Eropa tempo doeloe. Satu lagi, monumennya terlihat basah, mungkin karena Padang Panjang sering hujan. :)
Terus, bagaimana kondisi monumen ini sekarang, bung? Sama seperti monumen kolonial lainnya. Hilang ditelan zaman.....




Baca Selengkapnya ....

Istana Rajo Alam Alahan Panjang (1877)

Posted by Ferry Setia Budi 0 comments





Melihat foto rumah gadang diatas, tak pelak lagi yang terbayang adalah kemegahan masa silam. Betapatidak. Berbeda dengan kebanyakan rumah gadang yang biasanya bergonjong 5 atau 7, rumah gadang ini mempunyai jumlah gonjong 13! Selain itu juga terdapat bangunan yang kelihatannya berfungsi sebagai "rumah tabuah" atau rumah bedug serta lumbung padi dengan ukiran yang indah. Disamping itu juga terlihat taman dan jalan yang tertata rapi.
Memang rumah gadang ini bukan sembarang rumah gadang. Tapi ia adalah Istana dari Rajo Alam Alahan Panjang. Foto ini merupakan salah satu hasil dari ekspedisi Midden Sumatra yang sekarang menjadi koleksi Tropen Museum.
Ekspedisi Midden Sumatra juga mendokumentasikan keluarga penghuni istana tersebut, yaitu keluarga Rajo Alam (foto bawah). Sayangnya tidak ada identifikasi tentang siapa-siapa saja orang yang dipotret tersebut. Berkemungkinan orang yang menggunakan saluak, berkeris dan bertongkat panjang adalah Rajo Alam. Tapi itulah egaliternya orang Minang. Yang duduk dikursi adalah kaum perempuan (puterinya?), sedangkan sang Rajo sendiri malah duduk di lantai. Perhiasan keluarga ini juga tidak bling-bling seperti lazimnya keluarga raja. Hanya hiasan berupa kain dan penutup kepala, juga terlihat terbuat dari kain. Laki-laki yang berdiri (putra raja?) kelihatan memakai topi seperti prajurit romawi. Atau efek foto semata, tidak begitu jelas.
Pada gambar kedua identitas orang yang difoto lebih jelas. Judul foto menyebutkan mereka adalah saudara laki-laki dan puteri Rajo Alam. Sang saudara laki-laki memakai sejenis jas, dengan baju putih berkancing banyak di bagian dalam, memakai tutup kepala dan keris. Sepintas pakaiannya seperti prajurit dari kesultanan Jogjakarta. Sementara sang puteri cilik menggunakan penutup kepala, tidak begitu jelas terbuat dari bahan apa. Yang pasti, kain yang dipakai oleh paman dan keponakan ini terlihat bagus. Dan pasti mahal
.



Baca Selengkapnya ....

Mantri Kopi Alahan Panjang

Posted by Ferry Setia Budi 0 comments




Sewaktu melihat-lihat koleksi Tropen Museum, ambo tertarik pada foto ini. Atau lebih tepatnya, miris atau lebih tepatnya lagi, sedih. Di foto ini terlihat seseorang dengan memakai saluak -yang menandakan ia adalah seorang penghulu suku atau datuak- duduk berjongkok disamping 2 orang bule berjenggot. Yang satu berdiri dan yang satu duduk.
Ternyata ketertarikan awal itu berlanjut kepada "penemuan" bahwa foto itu merupakan bagian dari hasil Midden Sumatra Expeditie (Ekspedisi Sumatera Tengah) yang berlangsung selama 2 tahun, yaitu antara 1877-1879 dan disponsori oleh Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap (KNAG) atau Masyarakat Geografi Kerajaan Belanda. Ekspedisi ini berhasil memetakan bagian tengah pulau Sumatera, mengikuti alur Sungai Batanghari dan sekitarnya.
Dua orang bule itu adalah peneliti Belanda, yaitu Arend Ludolf van Hasselt (kelak menjadi Residen di Riau) dan Johannes Francois Snelleman (kelak menjadi direktur museum di Rotterdam). Sedangkan angku kita yang sedang berjongkok itu ternyata adalah seorang koffiemantri untuk kawasan Alahan Panjang dan sekitarnya yang bernama Pakih Sutan.


Wow. Seorang mantri kopi? Sebuah jabatan adminstratif sebagai seorang inspektur perdagangan kopi tentu bukanlah orang sembarangan. Ini terkait juga dengan Minangkabau sebagai daerah produsen utama tanaman kopi di Hindia Belanda pada jaman tanam paksa. Mantri kopi setidaknya adalah orang yang berpendidikan, artinya pernah sekolah dan bisa tulis-baca. Sebuah keterampilan yang sangat langka pada saat itu.
Paling tidak hal ini bisa terlihat pada foto kedua. Kewibawaan dan tatapan mata yang tajam cukup memperlihatkan bahwa beliau adalah seorang pejabat pada masanya. Perhatikan juga bahwa jas dan saluak dipakai dengan cara yang persis sama dengan foto sebelumnya.


Belum cukup itu saja. Ternyata angku mantari kupi ini cukup terkenal juga. Terbukti bahwa lukisan foto (atau foto lukisan?) beliau dan istri beserta satu orang lain (yang disebut sebagai "penulis pribumi" -mungkin maksudnya penterjemah), juga dimuat dalam buku karya F.J van Uildricks yang berjudul Beelden uit Nederlandsch Indiƫ (Gambar-gambar dari Hindia Belanda). Buku ini diterbitkan tahun 1893. Sekali lagi, perhatikan gaya pakaian dan saluaknya. Persis sama...:)

Nah, kembali kepada komentar pertama ambo tadi. Ambo miris bahwa seorang dengan jabatan adat dan jabatan administratif yang relatif tinggi, masih saja berjongkok kepada orang Belanda yang ternyata"hanya" para peneliti biasa. Konon lagi rakyat jelata. Begitulah nasib anak jajahan....:(

Baca Selengkapnya ....

Minangkabau Pada Zaman Jepang (1942-1944)

Posted by Ferry Setia Budi 0 comments





Sepintas foto disamping memperlihatkan foto seorang Angku Datuak dengan pakaian kebesarannya : saluak, kain bugis, baju dan celana dengan sulaman benang emas, lengkap dengan terompah datuak-nya.
Tapi kalau diamati lebih detail ada sedikit yang berbeda dari angku datuak kita ini. Mata sipit, rambut agak gundul, berkumis, muka bulat, kacamata bulat dan perut juga bulat. Tongkrongannya kayak tentara jepang saja. Tunggu dulu, tentara jepang?



Ini ada foto dua serdadu jepang diapit oleh anak-anak gadis minang berpakaian adat.Meskipun pada saat itu belum ada festival uda-uni, kalaulah salah satu gadis-gadis ini mengikuti festival itu sekarang, dijamin minimal juara favorit dapat-lah. Laahh, jadi ngelantur...
Back to basic. Sepertinya tentara jepang yang ditengah mukanya mirip dengan foto datuak tadi ya? Ya kumisnya, ya kacamatanya, ya bulat-bulat tongkrongannya. Ternyata bukan hanya mirip, tapi memang itu foto orang yang sama. Namanya adalah Kenzo Yano. Tapi dia bukan tentara, meskipun pakaiannya kayak tentara --pakai samurai pula. Dia adalah Gubernur Sipil Sumatera Barat sewaktu penjajahan Jepang. Shu-Chokan, bahasa Jepangnya. Mantan Gubernur Prefektur Toyama di Jepang sana. Ia mendarat di Padang pada tanggal 9 Agustus 1942 bersama 68 orang pejabat sipil lainnya.


Gubernur sipil? Ya, waktu penjajahan Jepang di Sumatera Barat ada 2 penguasa. Penguasa militer dibawah pimpinan Jenderal Tanabe berkedudukan di Bukittinggi. Sedangkan Gubernur Sipil ya pak Yano tadi, berkedudukan di Padang. Untuk memperlihatkan betapa pentingnya posisinya, coba perhatikan foto disamping ini. Deretan pejabat penguasa Jepang sedang berpose. Di barisan depan, ditengah-tengah adalah Jenderal yang sangat terkenal yaitu Penguasa Wilayah Selatan, Field Marshall Hisaichi Terauchi yang berkedudukan di Singapura. Disebelah kanan Terauchi adalah Jenderal Tanabe, Panglima Divisi ke-25 yang berkedudukan di Bukittinggi. Di sebelah kiri Terauchi tak lain tak bukan adalah Gubernur Yano. Dari posisi duduknya sudah kelihatan, bukan?
Mungkin karena basic-nya orang sipil maka Gubernur Yano melakukan pendekatan lebih manusiawi kepada rakyat Sumatera Barat dibanding penguasa militer. Dialah yang berprinsip untuk 'merebut hati dan perasaan rakyat' dalam menghadapi sekutu. Dia menghargai kebudayaan Minang, sehingga tak heran dia berpose dengan pakaian datuak tadi. Konon dia sangat menyenangi legenda rakyat Minang yang menyatakan asal-usul orang Minangkabau dari 3 orang bersaudara yang turun dari Gunung Merapi. Seorang menjadi raja di negeri Japang (Jepang), seorang menjadi raja di negeri Rum (Romawi) --yaitu Iskandar Zulkarnain, dan seorang lagi menjadi raja Minangkabau. Dengan legenda ini Gubernur Yano berusaha merebut hati rakyat Minangkabau bahwa sebenarnya 'kitorang basudara'.

Pendekatan yang relatif lunak seperti ini sering membuat penguasa militer gerah. Tapi Pak Gubernur ini jalan terus. Selanjutnya dia mengusulkan kepada penguasa Jepang untuk membentuk suatu laskar sukarela yang isinya orang Indonesia semua. Maksudnya tentu untuk mengambil hati. Laskar inilah nanti yang dikenal diseantero nusantara sebagai 'giyugun' atau Laskar Rakyat. Tak tanggung-tanggung, Gubernur Yano sampai terbang ke Jakarta dan berdiskusi dengan para founding fathers republik ini. Di foto samping terlihat ia bersama Mr. Ali Sosroamidjojo, Mr. M. Yamin, H. Agus Salim, Bung Hatta dan Bung Karno. Coba bayangkan bagaimana hangatnya diskusi yang terjadi kalau pesertanya adalah bapak-bapak itu!
Namun demikian, ternyata militer lebih kuat. Yano dianggap tidak sejalan karena lebih condong kepada mendorong semangat kemerdekaan anak negeri. Gubernur Yano akhirnya meletakkan jabatan pada Maret 1944 dan digantikan oleh Hattori Naoaki. Sebagian orang berpendapat bahwa ia dipaksa untuk mundur. Jawabnya tentu ada pada diri Sang Mantan sendiri...

Baca Selengkapnya ....
Template by Berita Update - Trik SEO Terbaru. Original design by Bamz | Copyright of Yang Patut Anda Ketahui......